Bahasa Arab Bukan Matematika
Anak saya fasih berbahasa Banjar tanpa pernah ikut kursus, sementara bertahun-tahun belajar bahasa Arab tak berbuah. Ternyata masalahnya bukan pada murid, tapi pada cara kita mengajarkannya.
Isi tulisan (6 bagian)
Anak saya tumbuh di dua bahasa, dan saya tidak pernah merancangnya. Di dalam rumah kami berbahasa Indonesia. Begitu ia keluar, bermain di halaman, menyapa tetangga, ia berpindah ke bahasa Banjar. Dua bahasa yang jauh berbeda, dua dunia yang berbeda, berjalan berdampingan dalam kepalanya tanpa pernah bertabrakan.
Yang membuat saya berhenti dan berpikir: bahasa Banjar itu tidak ada kursusnya. Tidak ada buku panduan, tidak ada daftar kosakata yang harus disetorkan setiap pekan, tidak ada ujian, tidak ada nilai. Tidak ada satu pun rumus tata bahasa yang pernah saya ajarkan kepadanya. Namun ia bisa. Ia bercakap, bergurau, dan mengungkapkan apa yang ada di kepalanya dengan luwes, tepat konteks, dan terdengar alami.
Kalau Begitu, Kenapa Bahasa Arab Terasa Begitu Sulit?
Pertanyaan itulah yang bertahun-tahun mengganggu saya, dan mungkin juga mengganggu banyak guru bahasa Arab di luar sana. Bukankah kemampuan berbahasa adalah kodrat manusia? Bukankah otak kita sudah dirancang untuk menyerap bahasa sejak lahir? Kalau seorang anak sanggup menguasai satu bahasa baru hanya dengan bergaul, mengapa bertahun-tahun belajar bahasa Arab di bangku sekolah sering kali tidak menghasilkan kemampuan yang serupa?
Saya sudah melihat sendiri murid-murid yang mendekati bahasa Arab dengan penuh kesungguhan. Mereka menghafal tashrif, mencatat pola jumlah dan fi'il, bahkan bisa menyebutkan fungsi i'rab sebuah kata dengan lancar. Tetapi ketika saya menyapa mereka dengan kalimat sederhana — sapaan yang biasa dipakai anak kecil — mereka terdiam. Bukan karena tidak tahu artinya, melainkan karena di kepala mereka sedang berjalan proses lain: memeriksa, menimbang, dan memastikan susunannya benar sebelum berani membuka mulut.
Coba lihat satu contoh kecil. Nama زَيْدٌ tidak berubah hurufnya, tapi bunyi akhirnya berubah sesuai pekerjaannya di dalam kalimat:
جَاءَ زَيْدٌ
Zaid datang.
رَأَيْتُ زَيْدًا
Saya melihat Zaid.
مَرَرْتُ بِزَيْدٍ
Saya melewati Zaid.
Tiga kalimat, satu nama, tiga bunyi akhir. Bukan karena namanya berubah, tapi karena kedudukannya berubah: pelaku, objek, dan kata setelah huruf jar. Kalau bahasa benar-benar seperti matematika, satu simbol seharusnya punya satu nilai. Di bahasa Arab, nilai sebuah kata ditentukan oleh tempatnya di dalam kalimat.
Bahkan harakat bisa membalik siapa melakukan apa:
قَتَلَ زَيْدٌ عَمْرًا
Zaid membunuh Amr.
قَتَلَ عَمْرٌو زَيْدًا
Amr membunuh Zaid.
Hurufnya hampir sama semua. Yang berubah cuma harakat di ujung kata. Tapi yang dibicarakan dua peristiwa yang bertolak belakang: siapa membunuh, siapa yang terbunuh. Tidak ada rumus tunggal yang bisa menyelamatkan kita di sini. Yang menentukan makna adalah susunan dan konteks, bukan hafalan bentuk.
Belum lagi satu kata yang punya banyak wajah. عَيْنٌ bisa berarti mata, mata air, atau mata-mata. Kamus mana pun akan bingung kalau kita bertanya artinya tanpa memberi kalimat. Yang memutuskan bukan daftar kosakata, tapi konteks tempat kata itu dipakai.
Itu sebabnya murid yang hafal tabel i'rab belum tentu bisa bicara. Ia tahu bentuk-bentuk kata, tapi belum tentu tahu bagaimana kalimat membentuk makna.
Memberi Pelajaran Bahasa seperti Mengajarkan Matematika
Di situlah letak kekeliruannya. Selama ini bahasa asing kerap diperlakukan layaknya disiplin ilmu eksakta. Murid langsung dihadapkan pada tumpukan kaidah, struktur formal, dan analisis gramatikal. Padahal tidak ada seorang pun yang belajar berbahasa dengan cara membedah bahasanya lebih dahulu. Anak saya menguasai bahasa Banjar bukan karena memahami pola kalimatnya, melainkan karena ia hidup di dalam bahasa itu setiap hari.
Mendahulukan rumus sebelum pemakaian sama halnya memaksa seseorang belajar berenang hanya dengan membaca panduan di tepi kolam, tanpa sekali pun menyentuh air. Yang tersisa hanyalah pengetahuan tentang cara berenang, bukan kemampuan berenang. Dan pengetahuan itu, sayangnya, tidak menolong siapa pun yang sedang tenggelam.
إِنَّآ أَنزَلْنَـٰهُ قُرْءَٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur`ān dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya.” (QS Yusuf: 2)
Perhatikan ujung ayat itu: agar kamu memahami. Bahasa Arab disebut di situ bukan sebagai tujuan, tapi sebagai jalan supaya manusia mengerti. Kalau jalan itu kita ubah menjadi gerbang ujian, kita sudah salah membaca ayatnya sendiri.
Yang Sebenarnya Terjadi di dalam Kepala Kita
Dari kegelisahan itu saya akhirnya menemukan penjelasannya. Stephen Krashen, pakar linguistik yang banyak mengkaji pemerolehan bahasa, membedakan dua hal yang sering kita anggap sama: language learning dan language acquisition. Pembelajaran bahasa bersifat sadar, formal, dan menitikberatkan pengetahuan eksplisit tentang tata bahasa. Adapun pemerolehan bahasa berlangsung di bawah sadar, melalui paparan yang bermakna dan terpahami. Bahasa pada hakikatnya diperoleh lebih dahulu lewat interaksi nyata, barulah kemudian strukturnya dirapikan.
Dari kajian itu setidaknya ada tiga hal yang menentukan apakah sebuah bahasa benar-benar masuk ke dalam diri seseorang, atau hanya singgah sebentar di buku catatan:
- Input yang bermakna dan terpahami. Bahasa diserap ketika perhatian murid tertuju pada pesan dan konteks, bukan pada bentuk katanya. Ia bisa memahami maksud sebuah kalimat jauh sebelum mampu membedah susunannya.
- Penurunan penyaring afektif. Kecemasan, takut salah, dan rasa bosan membangun dinding mental yang menghalangi bahasa masuk ke dalam otak. Kelas yang aman dan menyenangkan bukan kemewahan, melainkan syarat teknis agar bahasa bisa lewat.
- Keterlibatan dalam aktivitas nyata. Bahasa tumbuh melalui pemakaian: percakapan, permainan, dan tugas yang menuntut murid menyampaikan sesuatu kepada orang lain — bukan melalui setoran hafalan dan latihan yang jawabannya sudah ada di belakang buku.
Sayangnya, di kelas bahasa Arab pada umumnya tiga hal itulah yang paling sering tersisih. Panggung utama dipegang tata bahasa. Waktu habis untuk mengurai struktur, sementara murid hampir tidak pernah diberi kesempatan memakai bahasa untuk benar-benar menyampaikan sesuatu. Yang diuji hampir selalu kebenaran susunannya; yang nyaris tidak pernah diukur adalah keberhasilan murid mengantarkan maksudnya. Akibatnya kesalahan menjadi hal yang ditakuti, bukan bagian wajar dari proses belajar — dan murid yang paling takut salah adalah murid yang paling jarang bicara.
Di titik ini saya berpendapat lain dari cara lama. Dalam berkomunikasi, benar atau salah bukan ukuran utamanya. Apakah maksudmu sampai kepada orang lain — itulah ukurannya. Seorang murid yang keliru meletakkan harakat tetapi berhasil membuat kawannya paham sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada murid yang memilih diam karena takut tidak sempurna. Bahasa hidup dari keberhasilan mengantarkan maksud, bukan dari kesempurnaan susunan. Karena itu urutannya perlu dibalik: keberhasilan komunikasi lebih dahulu, kerapian struktur menyusul. Kaidah tetap penting, tetapi ia semestinya menjadi penyempurna setelah bahasa murid hidup, bukan gerbang yang harus dilewati sebelum ia diizinkan membuka mulut.
Bahasa Itu Hidup, Bukan Tabel
Ada satu riwayat yang menarik untuk direnungkan di sini. Bukan hadis tentang tata bahasa, tapi tentang keluasan bacaan Al-Qur'an:
أَقْرَأَنِي جِبْرِيلُ عَلَى حَرْفٍ فَرَاجَعْتُهُ، فَلَمْ أَزَلْ أَسْتَزِيدُهُ وَيَزِيدُنِي حَتَّى انْتَهَى إِلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ
Artinya: “Jibril membacakan kepadaku dengan satu huruf, lalu aku meminta tambahan, dan dia terus menambahiku sampai tujuh huruf.” (HR Bukhari no. 4991, sahih)
Sejak awal, wahyu diberi ruang untuk dibaca dengan lebih dari satu cara. Kalau bacaan Al-Qur'an saja diberi kelonggaran, apalagi mengajar bahasa kepada anak yang baru belajar. Tabel dan kaidah itu memotret satu momen dari bahasa yang sedang bergerak. Ia berguna, tapi ia bukan bahasa itu sendiri.
Satu Hal yang Ingin Saya Kerjakan
Tak puas hanya sampai pada teorinya, saya mencoba mencari bentuk yang bisa dipakai di kelas. Dari sana saya merintis Bilarabiya.online, sebuah platform kecil yang saya bangun untuk membantu guru bahasa Arab mengubah materi ajar yang tekstual dan kaku menjadi aktivitas belajar yang lebih hidup — bukan mengganti peran guru, sekadar menyediakan alat supaya murid berlatih bahasa sebagai pengguna, bukan sebagai penyimpan teori. Terus terang, itu masih pekerjaan yang jauh dari selesai, dan saya belajar banyak justru dari murid-murid yang gagal saya ajari dengan cara lama.
Mengembalikan Bahasa kepada Hakikatnya
Menguasai bahasa Arab tidak seharusnya identik dengan kerumitan menghafal rumus pola kalimat. Bahasa adalah alat untuk menyampaikan maksud, mengutarakan pendapat, dan menyentuh hati orang lain; sedangkan tata bahasa hanyalah rangka yang menyangga bangunan, bukan bangunannya sendiri.
وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِۦ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ
Artinya: “Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.” (QS Ibrahim: 4)
Perhatikan alasan yang dipakai ayat itu: supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Bahasa dipilih bukan karena derajatnya, tapi karena fungsinya: menjelaskan. Fungsi pertama bahasa adalah menyampaikan, bukan menyulitkan.
Anak saya tidak pernah menghafal satu kaidah pun untuk bisa bercakap dalam bahasa Banjar. Ia hanya tumbuh di tengah bahasa itu, mendengarnya setiap hari, dan diberi kesempatan untuk mencoba tanpa takut dihakimi. Kalau bahasa Arab diberikan dengan keleluasaan yang sama — lewat pengalaman yang bermakna, suasana yang tidak menakutkan, dan porsi praktik yang wajar — saya yakin ia tidak akan terasa lebih sulit daripada bahasa yang sudah ia kuasai sebelum masuk sekolah.
عَلَّمَهُ ٱلْبَيَانَ
Artinya: “mengajarnya pandai berbicara.” (QS Ar-Rahman: 4)
Yang Allah sebut sebagai anugerah di ayat itu bukan hafalan kaidah, tapi al-bayan: kemampuan menjelaskan. Kalau tujuan akhirnya begitu, maka kelas bahasa seharusnya dinilai dari seberapa berani murid bicara, bukan seberapa rapi ia menghafal tabel.
Fahrizal Mukhdar
Guru Bahasa Arab
Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.
Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain — dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.
Semua tulisan Tentang penulisTulisan terkait
Kategori yang sama dengan tulisan ini — Pendidikan
Terbaru
Dua tulisan terakhir di situs ini
Komentar
Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.
Jangan lewatkan tulisan baru
Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu — tanpa email, tanpa daftar.