Ketika Guru Tidak Lagi Tegak, Masyarakat Ikut Meremehkan
Wibawa guru tidak luntur karena ilmunya rendah, melainkan karena sikap profesi yang tidak konsisten — dan karena kita lebih takut pada satu komentar di grup daripada pada kebenaran yang kita tahu.
Isi tulisan (6 bagian)
Ada satu kalimat yang sering saya dengar di ruang guru, dan hampir selalu diucapkan dengan nada pasrah: "Sekarang guru itu cuma dianggap penyedia jasa."
Saya tidak akan membantahnya. Kalimat itu benar, dan saya pernah mengucapkannya sendiri. Tapi saya juga tidak mau berhenti di situ. Kalau semua kesalahan ditaruh pada sistem dan masyarakat, kita tidak punya apa pun yang bisa dikerjakan besok pagi.
Apresiasi sosial memang tidak lahir dari kebijakan saja. Ia juga lahir dari sikap kolektif profesi — dari cara kita berdiri, berbicara, dan menjaga batas peran kita sendiri.
Wibawa yang Luntur Bukan Karena Ilmu yang Rendah
Fakta pahitnya, sebagian guru memang kehilangan daya wibawa di mata masyarakat. Dan yang menyakitkan, biasanya bukan karena ilmunya rendah. Saya melihat setidaknya empat hal yang menggerusnya pelan-pelan.
Sikap profesional yang tidak konsisten. Datang terlambat, menilai tanpa kriteria yang jelas, melarang sesuatu yang kita sendiri kerjakan. Anak-anak melihat semua itu, dan mereka punya kebiasaan buruk: mengingat.
Tidak berani menjaga batas peran. Guru bukan orang tua, dan bukan pelayan. Tapi banyak dari kita bingung meletakkan diri di antara keduanya — lalu memilih yang paling aman: menuruti semua permintaan.
Lemah dalam komunikasi dan argumentasi. Kita pintar menjelaskan materi, tapi belum tentu mampu menjelaskan keputusan kita sendiri. Padahal wibawa tidak dijaga dengan suara tinggi, tapi dengan alasan yang jelas.
Terlalu defensif, atau justru pasif, di hadapan wali murid. Dua-duanya sama-sama melemahkan. Yang defensif terlihat sedang membela diri; yang pasif terlihat sedang menyerah.
Akibatnya satu hal yang sudah kita rasakan bersama: guru mudah digeser posisinya — dari pendidik menjadi penyedia jasa pendidikan. Dari orang yang dipercaya mendidik, menjadi orang yang dipesan melayani.
Titik Paling Rawan: Berhadapan dengan Wali Murid
Kalau saya harus memilih satu titik yang paling menentukan, itu bukan di dalam kelas. Itu di ruang tamu, di depan wali murid.
Saya pernah melihat seorang guru yang jelas-jelas benar meminta maaf berkali-kali, hanya karena takut persoalannya membesar. Nilai anaknya tidak naik, orang tuanya datang dengan nada tinggi, dan guru itu — yang tahu persis apa yang terjadi di kelas — memilih mengalah.
Bukan karena ia tidak paham. Ia paham. Tapi ia takut dilaporkan, takut difoto, takut diviralkan. Dan siapa yang bisa menyalahkannya? Biaya sosial untuk "benar" di zaman ini memang mahal.
Maka banyak guru belajar satu pelajaran yang tidak pernah ada di kurikulum mana pun: "lebih aman diam daripada benar."
Padahal mendidik anak bukan wilayah tunggal orang tua, dan bukan sepenuhnya urusan sekolah. Ketika guru tidak mampu menjelaskan peran pendidikan, tidak berani menegaskan batas otoritas wali murid, dan tidak sanggup berargumentasi secara pedagogik dan etis — maka kontrol pendidikan berpindah ke pihak yang paling vokal, bukan ke pihak yang paling kompeten.
Dan yang menanggung akibatnya bukan guru. Yang menanggung adalah anaknya.
Ini Bukan Salah Orang, Tapi Budaya Profesi
Saya perlu menegaskan satu hal, supaya bagian ini tidak dibaca sebagai tuduhan kepada kawan-kawan sendiri. Ini bukan soal individu yang lemah. Ini soal budaya profesi yang tidak dibangun.
Banyak guru sebenarnya paham secara akademik, peduli pada anak, dan bekerja sungguh-sungguh. Tapi mereka tidak dilatih berkomunikasi dalam konflik. Tidak dibekali keberanian profesional. Dan sering kali tidak didukung sistem ketika berkonflik — bahkan kadang "dikorbankan" oleh institusi sendiri demi meredam masalah.
Kalau guru yang benar pun bisa ditinggalkan sendirian, maka yang berikutnya belajar satu hal: jangan pernah berkonfrontasi. Dan sikap itu menular. Satu guru yang diam membuat guru lain ikut diam, sampai diam menjadi kebiasaan, dan kebiasaan menjadi watak profesi.
Takut kepada Manusia, atau kepada Allah?
Di sinilah saya selalu berhenti dan bertanya pada diri sendiri. Akar dari semua kehati-hatian yang berlebihan itu satu: takut kepada manusia.
Allah berfirman tentang orang-orang yang menyampaikan kebenaran:
الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا
"(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah; mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak takut kepada siapa pun selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan." (QS Al-Ahzab: 39)
Saya tidak sedang menyamakan guru dengan para nabi. Jauh sekali. Tapi prinsipnya berlaku: orang yang menyampaikan kebenaran tidak boleh menggantungkan rasa amannya pada penilaian manusia. Kalau kita takut pada satu komentar di grup percakapan, kita sudah menyerahkan otoritas kita kepada orang yang paling berisik — bukan kepada yang paling tahu.
Dan tentang kedudukan orang yang mengajarkan kebaikan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah, para malaikat-Nya, penduduk langit dan bumi — sampai semut di lubangnya dan ikan di laut — berselawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR at-Tirmidzi no. 2685; dinilai hasan oleh Darussalam dan hasan sahih oleh al-Albani).
Kalau langit dan bumi saja memuliakan orang yang mengajar, kenapa kita sendiri yang mengajar masih merasa kecil di depan satu orang tua yang marah?
Empat Hal yang Bisa Dikerjakan
Pertama, tegas pada peran. Guru bukan orang tua, tapi juga bukan pelayan. Pendidikan adalah kerja profesional, bukan negosiasi emosional yang bisa ditawar setiap kali ada yang tidak puas.
Kedua, kuat berargumentasi. Bukan dengan suara tinggi, tapi dengan tiga pijakan: pedagogik, data, dan etika. Guru yang bisa menjelaskan alasannya dengan tenang jauh lebih sulit ditekan daripada guru yang hanya bisa mengeluh.
Ketiga, konsisten menjaga wibawa. Dalam tutur kata, dalam keputusan, dan dalam sikap kolektif. Wibawa tidak dibangun oleh satu pidato, tapi oleh seribu keputusan kecil yang tidak bertentangan satu sama lain.
Keempat, institusi harus berdiri di belakang guru. Kepala sekolah tidak boleh melempar gurunya ke publik begitu ada masalah. Konflik harus diselesaikan dengan prinsip, bukan dengan kepanikan. Guru yang tahu dirinya dibela akan berani berkata benar — dan guru yang berani berkata benar adalah aset paling berharga sebuah sekolah.
Penutup: Wibawa Tidak Bisa Diminta
Negara wajib memperbaiki sistem. Masyarakat wajib mengubah cara pandang. Tapi guru juga wajib menegakkan martabat profesinya sendiri.
Wibawa tidak bisa diminta, dan tidak bisa dibagikan lewat surat edaran. Ia dibangun — sedikit demi sedikit, oleh guru yang konsisten, yang berani, dan yang tidak menjual kebenarannya demi rasa aman sesaat.
Guru yang ragu pada otoritasnya sendiri akan sulit dihormati orang lain. Sebaliknya, guru yang berdiri dengan ilmu, etika, dan keberanian — tidak perlu meminta dihormati. Orang akan menghormatinya sendiri.
Fahrizal Mukhdar
Guru Bahasa Arab
Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.
Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain — dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.
Semua tulisan Tentang penulisTulisan terkait
Kategori yang sama dengan tulisan ini — Pendidikan
Terbaru
Dua tulisan terakhir di situs ini
Komentar
Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.
Jangan lewatkan tulisan baru
Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu — tanpa email, tanpa daftar.